BERITA & ACARA‎ > ‎Berita PPI‎ > ‎

Kunjungan Bpk. Din Syamsudin ke Wina

posted May 27, 2013, 4:00 PM by Ppi Austria   [ updated May 30, 2013, 5:47 AM ]
Wina, 23 Mei 2013: 
Kontributor: Rasmi / Fajar

Bpk Din Syamsuddin datang ke Wina dalam rangka menghadiri rapat NGO World Conference of Religions for Peace (WCRP) yang dimulai Kamis, 23 Mei. Organisasi lintas agama yang berpusat di New York dan bervisi mewujudkan perdamaian dunia ini sudah terbentuk hampir 50 tahun (pada 1970) dan selalu mengadakan dialog rutin (world assembly) yg dihadiri tokoh-tokoh agama dunia. Bpk Din Syamsuddin saat ini menjabat sebagai Co-President WCRP dan President dari Religions for Peace wilayah Asia atau Asian Conference of Religions for Peace (ACRP).

Pada kehadirannya kali ini, Pak Din menyempatkan diri untuk bertemu dengan masyarakat Indonesia di Wina untuk menyampaikan beberapa hal, dan juga berdialog dengan masyarakat Indonesia di Wina. Beberapa poin penting yang dapat disarikan dari pertemuan tersebut adalah sebagai berikut: 
  • Hari kebangkitan nasional maupun sumpah pemuda merupakan tonggak sejarah penting bagi bangsa yang mendorong perkembangan kedaulatan kultural (cultural sovereignty).
    • Penegakan kedaulatan merupakan hal yang masih relevan pada peringatan kebangkitan nasional saat ini, yaitu saatnya untuk menegakkan kedaulatan harkat dan martabat negara (dignity sovereignty), yang salah satunya adalah dengan mengkoreksi UU yang merugikan rakyat dan menjatuhkan kedaulatan, sebagai contoh UU mengenai migas.
  • Elemen penting dari kebangkitan nasional adalah kesadaran politik untuk merdeka, dimana setelah terjadinya kebangkitan nasional (1908) dan sumpah pemuda (1928) mulai terbentuk usaha-usaha yang determinan dalam mewujudkan kemerdekaan NKRI.
    • Hal ini masih relevan pada saat ini dimana diperlukan kesadaran politik untuk maju dan berkembang, terlebih lagi dengan adanya kebangkitan-kebangkitan negara lain di dunia, terutama Cina, dimana Cina berupaya untuk menerapkan ekonomi free market dengan otokritik berdasarkan watak khas mereka sebagai bangsa Cina.
    • Saat ini di Indonesia ada 3 sektor utama ekonomi yang didominasi perusahaan asing: energi, telekomunikasi dan perbankan, dimana seharusnya berpihak pada bangsa sendiri tapi ada orang-orang tidak baik yang mencari untung lebih.
  • Sense kebudayaan saat ini juga penting karena identitas dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia nampak semakin berkurang dengan adanya gejala inferioritas, salah satu gejalanya terlihat dari anak muda yang lebih senang pada kebudayaan luar (seperti Kpop) dan adanya usaha-usaha untuk membuat tiruan budaya tersebut.
    • Padahal Indonesia juga memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan seperti prestasi dalam olimpiade-olimpiade ilmiah internasional dan penemuan-penemuan (contohnya siswi Indonesia yang menciptakan pengharum ruangan dari kotoran sapi yang dikompetisikan pada ajang internasional di Istanbul). 
    • Kebangkitan nasional saat ini harus lebih difokuskan pada arah kemajuan-kemajuan tersebut.
  • Kelemahan kita dalam mewujudkan kebangkitan nasional ini terutama dalam menyusun rencana jangka panjang dan jangka pendek. Hal ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah tapi juga seluruh warga Indonesia.
    • Dengan kesempatan bekerja dan bersekolah di luar negeri kita bisa melihat cara pandang lain dalam mewujudkan kemajuan bangsa.
Pertemuan ini kemudian dilanjutkan dan diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan beberapa penanya, diantaranya adalah Pak Syahrul Luddin dari OPEC Fund, mas Andi "Acha" Juniarsyah, dan Dhota Pradipta dengan pertanyaan mengenai ketersediaan modal uang dan know-how untuk membangun infrastruktur di Di Indonesia, Karakter yang perlu dimiliki bangsa, dan kontradiksi mengenai kontradiksi antara ekonomi kerakyatan dan kapitalisme yang tersirat di dalam UUD 1945. 
ą
Ppi Austria,
May 27, 2013, 4:00 PM
Comments