BERITA & ACARA‎ > ‎Berita PPI‎ > ‎

PPI Austria turut serta dalam pemecahan masalah global

posted Jul 23, 2012, 6:43 PM by Ppi Austria

Wina, 23 Juli 2012: Kontributor: Wikan Danar Sunindyo

Artikel ini termuat dalam harian Republika, link: http://www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/07/23/m7m7wx-ppi-austria-ikut-dalam-pemecahan-masalah-global

Pada tanggal 26 Juni 2012, melalui pertemuan ke-80 International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) Council, Indonesia diterima secara resmi sebagai anggota IIASA ke-19. IIASA adalah suatu organisasi internasional yang berpusat di Laxenbug, sebuah kota kecil di dekat Wina Austria, yang berdiri pada tahun 1972 sebagai institut ilmu pengetahuan internasional yang melaksanakan penelitian komprehensif pada sejumlah isu global yang mengemuka khususnya dalam tiga tema utama yaitu, energy and climate change, food and water, serta poverty and equality

Undangan kepada Indonesia untuk menjadi anggota IIASA merupakan pengakuan bahwa Indonesia sudah berada di jalan yang tepat untuk menjadi advance-industrialized society dan bahwa Indonesia sudah menjadi salah satu negara penting yang memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusinya bagi penyelesaian masalah global.Sebaliknya, Indonesia juga dapat mengambil manfaat yang sangat besar dari kapasitas dan jaringan scientific yang dimiliki IIASA, metodologi dan modelling penelitian yang digunakan IIASA, pengalaman mensinergikan lintas disiplin untuk menjawab permasalahan bersama, proyeksi dan estimasi yang dikembangkan, aspek resiko dan kerentanan yang diidentifikasikannya, serta pengalaman mentransformasikan kajian menjadi kebijakan. Bergabungnya Indonesia dalam IIASA tidak lepas dari kerja keras KBRI Wina dan Kementerian Riset dan Teknologi dalam mengupayakan kerjasama multinasional yang strategis dengan lembaga-lembaga internasional seperti IIASA.

Berkaitan dengan persiapan keanggotaan Indonesia di IIASA tersebut, pada tanggal 12 Maret 2012, Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Austria (PPI Austria) bekerja sama dengan KBRI Wina, IIASA, Vienna University of Technology (TU Wien), Austrian Agency for International Cooperation in Education and Research (OeAD), dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) telah mengadakan seminar bertajuk Earth Resilience atau Ketahanan Bumi. Seminar ini mengundang Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Menristek), Prof. Dr. Gusti Muhammad Hatta sebagai keynote speaker, yang dalam kesempatan tersebut berhalangan hadir, namun bersedia untuk menyampaikan keynote-nya dalam bentuk video. Menristek menyambut dengan gembira gagasan yang dilakukan oleh PPI Austria untuk menyelenggarakan seminar ketahanan bumi yang berkaitan dengan 7 prioritas area penelitian yang saat ini digagas oleh kementerian riset dan teknologi yaitu, pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, ketahanan, dan teknologi maju lain seperti nano teknologi.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Direktur OeAD, Prof. Hubert Duerrstein yang memandang pentingnya peneliti-peneliti muda untuk terus mengembangkan diri dan berinisiatif dalam melakukan terobosan dan pemecahan-pemecahan masalah dunia di masa kini dan yang akan datang. Saat ini, OeAD telah memfasilitasi pertukaran mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia ke Austria. OeAD juga memfasilitasi berbagai riset dan pengembangan teknologi dalam hal penyelamatan bumi dari bahaya-bahaya yang mengancam ketahanannya. 

Dalam sesi pertama mengenai penggunaan teknologi informasi untuk ketahanan bumi,  Prof. Nakicenovic Nebojsa, deputi direktur IIASA menyampaikan perlunya perubahan/transformasi penggunaan energi secara global untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya minyak dan menggantikannya dengan sumber energi yang terbarukan. Dr. Alexander Schatten, direktur Sophisystems Austria menyampaikan tentang peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam ketahanan bumi yaitu sebagai fasilitator dan faktor yang memungkinkan dan mempermudah terdistribusinya informasi dan pengetahuan dari pakar-pakar dengan latar belakang yang berbeda dalam upaya penyelamatan bumi. Dr. Stefan Fenz dari Secure Business Austria menambahkan perlunya analisa resiko dalam upaya penanggulangan bencana untuk mengurangi kerusakan dan kerugian yang timbul akibat bencana alam. Pada akhir sesi pertama, Dr. Johny Setiawan, pakar astronomi sekaligus anggota dewan penasihat I4 yang saat ini mengabdikan diri di KBRI Jerman menambahkan perlunya penggunaan teknologi-teknologi canggih termasuk yang digunakan di luar angkasa untuk meminimasi dampak bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia.

Di sesi kedua mengenai penggunaan sains dan rekayasa dalam ketahanan bumi, Achmad Adhitya, peneliti di NIOO-KNAW Belanda sekaligus Direktur Eksekutif I4 menyampaikan temuannya dalam upaya penyelamatan ekosistem penyu di Kepulauan Derawan, dalam kaitannya dengan ketahanan bumi. Dr. Michael Obersteiner, peneliti senior di IIASA menyampaikan perlunya pencadangan bahan pangan dan diversikasi pangan untuk menghindarkan dunia dari bahaya kelaparan dan kekurangan pangan akibat perubahan iklim global, bencana alam dan kegagalan panen yang terjadi belakangan ini. Prof. Erich Lehner, guru besar arsitektur di Universitas Teknologi Wina menyampaikan observasi dan hasil projek pembangunan kembali daerah yang tertimpa bencana alam di Nias dan Yogyakarta. Sebagai penutup sesi kedua, Prof. Alfred Pitterle dari Universitas Sumber Daya Alam dan Biologi (BOKU) Wina menyampaikan pentingnya manusia untuk hidup bersama alam dan menyodorkan alternatif untuk mulai memperhitungkan faktor alam dalam biaya produksi ekonomi.

Seminar ini merupakan bentuk partisipasi dari PPI Austria dalam pemecahan permasalahan global yang melanda dunia saat ini yang menuntut kerja sama multidisiplin dan multinasional. Hadir dalam seminar tersebut, 50 peserta dari berbagai latar belakang dan negara yang menyampaikan apresiasi mereka terhadap kinerja panita serta topik yang relevan dengan yang terjadi dunia termasuk di negara mereka.

Sebagai tindak lanjut dari acara seminar ini adalah penajaman visi ketahanan bumi dan sosialisasinya, termasuk kerja sama penelitian antara perguruan tinggi di Indonesia dan Austria yang diwakili oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Udayana (Unud), dengan Vienna University of Technology (TU Wien). Rencana pembukaan program doktoral di bidang informatika lingkungan (enviornmental informatics) di TU Wien yang bekerja sama dengan IIASA merupakan salah satu realisasi dari keinginan pihak-pihak yang berkepentingan dalam seminar tersebut untuk pemanfaatan ilmu-ilmu secara multidisiplin dalam penanganan permasalahan global, yang juga terus dikawal dan disosialisasikan oleh PPI Austria.

Semoga hal ini bisa menjadi sumbangsih dari PPI Austria dalam pemantapan visi kepemimpinan Indonesia di kancah global serta menginspirasi organisasi pelajar dan ilmuwan Indonesia di seluruh dunia untuk dapat berkolaborasi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

Wikan Danar Sunindyo

Mantan Ketua PPI Austria 2009 – 2010

Mahasiswa PhD di Vienna University of Technology

Wina, Austria

Comments