BERITA & ACARA‎ > ‎Berita PPI‎ > ‎

Sepenggal Kisah Keikutsertaan PPI Austria di Temu Eropa 2011 (Bag.1)

posted May 23, 2011, 11:24 PM by Tri Kurniawan Wijaya   [ updated May 24, 2011, 12:53 AM by Katon Dwi Kurniawan ]
Wina, 23 Mei 2011
Oleh: Ahmad Reza Khomaini*

“Dari (PPI) Austria yah? Luar biasa, mantab!”. Ucapan ini keluar dari mulut sebagian besar perwakilan PPI negara-negara di Eropa pada Temu Eropa 2011, Sabtu (21/5) lalu. Saya tersanjung sekaligus terkejut dengan compliment tersebut. Nggak juara kok dapat pujian. Kalimat ini terbesit dalam pikiran saya dan juga personel PPI Austria lain yang ikut serta dalam acara yang digelar di Eindhoven, Belanda, itu. Bagaimana kisahnya, saya coba tuangkan dalam goresan ringan ini.

Super-Warrior Team :-)

LELAH, letih, capek, bahagia, senang, pusing, sakit, lega, bangga, etc. Semuanya bercampur menjadi satu. Itulah perasaan yang saya alami usai menjalani event Temu Eropa 2011 yang digagas Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Eindhoven-Belanda. Bagi saya, akhir pekan kemarin (21-22 Mei) merupakan akhir pekan terbaik dalam hidup saya (maybe :-)). Banyak yang ingin saya jabarkan dalam tulisan ini, dari mulai keberangkatan, perjalanan, pertandingan, hingga kembali pulang.

Namun sebelum dimulai, saya ingin memberikan apresiasi dan rasa hormat kepada dua nama, Sharleen “Nona” Tobing dan Sanita Suhartono.  Kalau kalian baca tulisan ini, I just want to say “Salut dengan kerja kerasnya! Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau saya dan teman-teman tidak bisa juara.”. Saya pribadi menaruh rasa hormat yang paling dalam kepada kinerja keduanya. Nona dan Nita benar-benar mengucurkan keringatnya untuk mensukseskan partisipasi PPI Austria di Temu Eropa 2011 ini.  Dari mulai urusan transportasi, konsumsi, akomodasi, administrasi, kostum tim, serta hal-hal kecil lainnya, digarap habis oleh dua sosok cantik ini.

Segudang kendala menerpa persiapan kontingen PPI Austria jelang Temu Eropa 2011. Dari mulai penentuan moda transportasi yang digunakan (sempat molor cukup lama), hingga jadwal latihan yang urung menemukan titik temu antara satu personel dengan yang lainnya (latihan basket cuma satu kali). Situasi ini semakin menambah sulit perjuangan tim. Jangankan bicara prestasi, untuk bisa mengimbangi kekuatan dari PPI Jerman dan tuan rumah Belanda pun saya rasakan bak “mission impossible” saja. Kontingen PPI Austria sendiri di event ini turun di cabang olahraga Futsal, Basket, 3 point contest, dan Capsa. Selain cabang olahraga, kami juga ikut dalam kompetisi film pendek dan kesenian musik. Kendati bermodalkan persiapan yang minim, saya bersama 6 rekan lainnya (Anggun “Munsawir” Saputra, Rizal “Jali” Melian, Yaser “Ais/Jablay” Alfarisi, Winarto Edo Ammanda, Daniel Wibisana, dan Imanuel Wicaksono) tetap optimistis. Spirit kebersamaan menjadi landasan kami dalam menatap ajang yang digagas PPI Belanda ini.

Jumat, 20 Mei 2011. Hari keberangkatan itu pun tiba. Kami dijadwalkan pukul 19.48 berangkat dari Westbahnhof menggunakan kereta api menuju Düsseldorf via Frankfurt. Sejam sebelum waktu keberangkatan, kondisi saya sempat terguncang dengan situasi yang (mungkin) rutin terjadi. Namun lagi-lagi, Nona dan Nita mendinginkan suasana. “Bukan kau saja yang mengalami. Yang lain juga, termasuk aku,” tukas Nona saat memberikan pencerahan kepada saya di perjalanan.

Selama perjalanan (total 16 jam), kami mengisi waktu dengan membahas strategi yang akan kami lakukan untuk dua cabang olahraga, Futsal dan Basket. Jali yang diplot sebagai kapten tim basket PPI Austria menjelaskan kepada kami perihal taktik dan pemain-pemain yang menjadi starter untuk pertandingan besok. Setelah selesai memaparkan strategi untuk cabang basket, giliran saya menjabarkan kepada teman-teman seputar racikan tim Futsal PPI Austria untuk laga nanti. Kami sadar bahwa kemampuan yang kami miliki amat sangat pas-pasan. Pas-pasan karena kami (7 pemain, Red) dituntut bermain untuk dua cabang olahraga dalam waktu yang sangat mepet.

Yang menarik dari perjalanan ini adalah cara seorang Ais atau Jablay menghibur kami selama perjalanan. Ais mampu membuat suasana yang tadinya dingin bak es menjadi cair. Canda bocah dari Cimanggis, Depok, ini membuat saya, Edo, Daniel, dan Manuel yang berada satu kabin tak henti-hentinya tertawa. Untuk urusan ngelawak, Jablay paling pas kalau disandingkan dengan Jali. Ini yang saya bilang duet maut Wina! Thank You yah Blay!

Sabtu (21/5) pagi pukul 06.02, rombongan tiba di Frankfurt. Kami sarapan bersama di kedai makan cepat saji Mc Donald. Saya bersama Jali, Jablay, dan Edo juga sempat mengambil momen berfoto dengan latar belakang gedung yang digunakan di film The A Team. Pun demikian yang lainnya. Yang jelas, di setiap kota yang kita singgahi, kami menyempatkan diri untuk bernarsis ria hehehe. Kurang dari sejam, kami bertolak menuju Düsseldorf. Selama perjalanan ini, saya banyak bercengkrama bersama Nona dan Nita. Kebetulan kami duduk satu meja, sementara yang lain mendapat tempat sedikit jauh dari kami. “Lupakan semua pikiran. Fokus buat pertandingan,” begitu kira-kira pesan Nona dan Nita kepada saya. Setiba di Düsseldorf sekitar pukul 9.00, kami harus pindah kereta jurusan Venlo, Belanda.

Nah, perjalanan dari Düsseldorf menuju Venlo ini sangat menguras tenaga saya. Karena selama 1 jam perjalanan, saya, Daniel, dan Anggun tidak kebagian tempat duduk. Saya baru bisa merasakan nikmatnya duduk di bangku kereta Eurobahn setelah melewati sekitar 7 stasiun atau 3 halte terakhir sebelum Venlo. “Udah cuma bisa tidur 4 jam, dan kondisi masih capek, eh sekarang harus berdiri selama sejam,’’ gerutu saya dalam hati di perjalanan. Kami tiba di Venlo sekitar pukul 10.30. Setelah menunggu sekitar 30 menit, kami kembali melanjutkan perjalanan terakhir kami, dari Venlo menuju Eindhoven, akhirnya! Di perjalanan, saya menawarkan kepada 3 sekawan (Jali, Jablay, dan Munsawir) makanan yang saya bawa. Kebetulan sebelum berangkat saya diberikan bekal makanan berupa Ayam dikuningin dan Jantung-Ampela dikecapin (danke buat makanannya yah). Kami berempat melahap makanan tersebut tanpa ada sisa. Tentu yang menarik adalah cara teman-teman saya makan. Jali, misalnya. Bocah asal Cipadu ini ternyata berantakan kalau makan. Jablay makan sambil ngelawak. Munsawir sempat kebagian sisa-sisa dari Jali. Aksi mereka benar-benar membuat saya tertawa.

Penantian 16 jam itu pun datang. Kami tiba di Eindhoven tepat pukul 12.15. Di stasiun kereta Eindhoven, rombongan dijemput oleh panitia Temu Eropa 2011, Okta dan Osa. Dengan kondisi badan yang super lelah dan capek, kami berangkat menuju arena pertandingan. Is game day! (bersambung)