BERITA & ACARA‎ > ‎Berita PPI‎ > ‎

Sepenggal Kisah Keikutsertaan PPI Austria di Temu Eropa 2011 (Bag.2)

posted May 25, 2011, 11:58 PM by Tri Kurniawan Wijaya   [ updated May 26, 2011, 12:02 AM ]
Wina, 25 Mei 2011
Oleh: Ahmad Reza Khomaini*

It’s Match Day! Ya, waktu pertandingan telah tiba. Sesampainya di Stasiun Eindhoven, Belanda, Sabtu (21/5) siang, kontingen PPI Austria langsung meluncur ke Indoor Sportcentrum. Venue Temu Eropa 2011 yang terletak di Theo Koomenlan 1 5644 HZ itu, sudah ramai dipenuhi kontingen dari negara Eropa lain. Bagaimana jalannya laga? Berikut kisahnya.

-----

DAVID versus Goliath. Cerita klasik pertempuran di tanah Jerusalem ini menginspirasikan saya dalam menggambarkan perjuangan kontingen Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Austria di pentas Temu Eropa 2011, 21-22 Mei lalu. Lawan-lawan yang kami hadapi tak ubahnya sosok Goliath. Seorang ksatria perang yang digambarkan memiliki tubuh besar, kekar, kuat, dan dilengkapi persenjataan yang komplet untuk bertempur. Sementara kami, dengan armada 9 orang (7 di antaranya pemain, Red), saya deskripsikan sebagai seorang David. Sosok yang lemah, kecil, kurus, pendek, dan bersenjatakan sebuah ketapel. Dalam kisahnya, David secara mengejutkan mampu mengalahkan Goliath. Kecerdikan menjadi kunci sukses si Lemah dalam meruntuhkan hegemoni sang Raksasa.  PPI Austria memang tidak berprestasi di ajang yang dihelat di Kota Eindhoven ini. Namun, ada momen di mana perjuangan yang kami lakukan mengejutkan semua pihak. Tak ubahnya sosok David!
Beberapa saat sebelum rombongan PPI Austria tiba di Stasiun Eindhoven, saya menerima sebuah kabar buruk. Sharleen “Nona” Tobing, selaku ketua kontingen, mengabarkan sesuatu yang saat itu sungguh menakutkan. Bagi saya, kabar  tersebut ibarat sosok hantu yang wujudnya benar-benar menyeramkan. “Za, aku baru dapat pesan dari panitia. Mereka bilang kita satu grup dengan PPI Jerman, PPI Belanda, dan KBRI Belanda,’’ ucap Nona dengan wajah polos.

Sejenak pikiran saya menerawang kosong. Sejurus kemudian, kedua mata ini menatap tajam langit-langit kereta Eurobahn yang membawa kami dari Venlo menuju Eindhoven. “Gila! Ketemu tuan rumah dan Jerman di babak penyisihan grup,” ucapku di dalam hati. Andaikan bisa memilih, tentu saya ingin agar tim kami terhindar dari grup “neraka” ini. Alasannya sederhana. Tuan rumah (PPI Belanda, Red) sudah pasti memiliki kesiapan yang jauh lebih matang. Mulai dari jumlah pemain, lapangan pertandingan yang sudah terbiasa, serta kondisi fisik yang prima. Selain itu juga, dukungan publik setempat sudah pasti bakal mendongkrak motivasi para pemainnya. Setali tiga uang dengan tim KBRI Belanda. Mereka juga tuan rumah.

Lantas bagaimana dengan PPI Jerman? Di antara 9 personel dari rombongan PPI Austria, tak satu pun mengetahui kualitas lawan. Namun, jika dilihat dari jumlah pelajar yang tengah menempuh kuliah/studi di negara tersebut, tentu Austria tidak ada apa-apanya. Info terakhir yang kami peroleh, PPI Jerman datang dengan jumlah pasukan sekitar 120 personel. Rumus kuantitas = kualitas sesaat menjadi bahan pertimbangan saya dalam menerka kekuatan Jerman. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan PPI Austria. Dengan jumlah personel yang super minim, kami juga dipaksa berjuang melawan kondisi fisik yang tersisah 50 persen. Selebihnya telah habis termakan oleh perjalanan kereta selama 16 jam.

Setibanya di arena Indoor Sportcentrum, kami sudah diminta panitia untuk bersiap-siap turun ke lapangan. “PPI Austria  5 menit lagi main Futsal,” ujar Okta, panitia Temu Eropa 2011 yang menjemput kami di Stasiun Eindhoven. Kami pun bergegas ke ruang ganti. Kostum merah-putih yang dipinjamkan KBRI/PTRI Wina untuk tanding di cabang Futsal kami pakai. Belum melakukan pemanasan, tiba-tiba seorang panitia meralat agenda pertandingan. “Maaf, kalian bertanding di cabang basket dulu,” jelasnya. “Sial!,” jawab saya dalam hati. “Udah capek-capek ganti kostum bola, eh ternyata main basket. Gimana sih nih panitia,” lanjut hati ini menggerutu.  

Di cabang basket, lawan pertama yang kami hadapai adalah PPI Jerman. Sebelum bertanding, kami berdoa dan meminta kepada sang Pencipta agar diberikan kekuatan, kesehatan, dan bisa terhindar dari segala kecelekaan. Dengan langkah gontai, kami masuk ke lapangan. Jali memimpin seluruh personel melakukan pemanasan.  5 menit berselang, wasit memberikan tanda dimulainya pertandingan. Jali, Manuel, Daniel, Munsawir, dan saya bermain sebagai starter. Sementara Jablay dan Edo bersiap diri di bangku cadangan. Kita kalah pada pertandingan pertama cabang basket (skornya lupa).  Usai laga, Jali tampak kesal dengan hasil ini. Matanya mengeluarkan sinar kekecewaan. “Boy (Reza) kita sebenarnya bisa menang. Anak-anak grogi dan belum kompak bener,” ujarnya kepada saya. “Ya udah, nanti kita coba benahin di pertandingan kedua,” jawabku memberi semangat rekan satu tim.

Keyakinan saya kalau kami mampu berbuat banyak di cabang Futsal harus bertepuk sebelah tangan. Di partai perdana melawan KBRI Belanda (Den Hag), kami kalah 0-2. Dua kekalahan di partai awal membuat posisi PPI Austria terancam gagal lolos ke fase berikutnya.  Tak ada kata lain selain menang di partai kedua. Jali dan saya tak henti-hentinya memompa semangat teman-teman. Dengan kondisi fisik yang terus menurun, kami mencoba untuk tetap tegar. “Ya udah kita main enjoy saja di pertandingan kedua,” jelas Jali kepada pemain lain.

Di partai kedua Basket, kami bersua tim tangguh PPI Belanda. Pada laga ini, saya memilih untuk tidak bermain. Tujuan saya hanya satu; ingin mengembalikan stamina yang rontok akibat 2 kali bertanding, dan fokus untuk laga hidup mati di cabang Futsal. Meski tidak bermain, saya tetap membantu perjuangan teman-teman dari bangku cadangan. Sesekali saya memberikan semangat dengan teriak-teriak, namun tak jarang juga menertawakan tingkah laku teman-teman (terutama Jablay/Ais). “Mana ada Budi Anduk atau Mama Hengky bisa main basket,” kata saya mencela tingkah laku bocah asal Depok itu.

Di laga kedua ini, permainan anak-anak meningkat drastis dibandingkan laga perdana. Di babak pertama, kami hanya tertinggal dua bola (14-10). Namun di babak kedua, kami gagal memperpendek ketertinggalan. Kondisi fisik yang terus menurun membuat lawan dengan mudah memperbesar kedudukan. Skor akhir pun berada di tangan PPI Belanda, 24-16. Dengan hasil ini, tim Basket PPI Austria pun divonis gagal lolos ke babak berikutnya. Harapan kini tinggal di cabang Futsal.

Ok. Di cabang Basket, kita divonis gagal lolos. Peluang kini tinggal di cabang Futsal. Lawan yang dihadapi adalah tim kuat PPI Jerman. Saya pun harus memutar otak lebih dalam untuk pertandingan ini. Dari segala sisi, saya akui PPI Jerman di atas kami. Mereka memiliki sedikitnya 12 pemain khusus untuk bermain di cabang Futsal. Mereka juga memiliki suporter yang jauh lebih banyak (sekitar 60 orang). Saya sendiri telah berjanji kepada Nona dan Nita kalau kami bakal tampil habis-habisan di cabang ini. “Minimal kita harus bisa mendapat poin, entah itu seri atau menang,” kata saya.

Sialnya, keinginan meraih poin di laga kedua ini lagi-lagi terganggu oleh jadwal panitia. Tiga personel PPI Austria diminta untuk menjalani laga 3 point contest di cabang Basket. Mau tidak mau, Jali, Munsawir, dan Daniel yang berpartisipasi dalam kontes ini harus kembali terkuras tenaganya sebelum duel melawan PPI Jerman. Di laga ini, Jali dan Munsawir masing-masing berhasil memasukan total 7 bola ke dalam ranjang basket, sedangkan Daniel hanya 4 bola.

Saat teman-teman tengah menjalani kontes tersebut, saya mencoba menenangkan diri. Alam pikiran ini coba saya alihkan ke suatu tempat. Tempat di mana, menurut saya, bisa menguatkan mental saya jelang laga. Teringat pesan dari seorang sahabat (Isman Jasulmei) kepada saya, “Kunci dari kemenangan itu ada di mental!”.  Menurut dia, mental yang kuat dapat memompa semangat juang kita. Rasa lelah dan letih pun hilang dengan sendirinya.

Ketika semua pemain telah berkumpul di lapangan, saya menyalami semua personel satu demi satu sambil berujar, “Ayo kita bisa!”. Sejurus kemudian, wasit pun meniup peluit tanda dimulainya pertandingan.  Hingga setengah waktu di babak pertama, kami mampu mengimbangi permainan PPI Jerman. Bahkan, peluang-peluang untuk mencetak gol sempat kami peroleh. Sebaliknya, lawan seperti kesulitan untuk menembus pertahanan kami. Peluang emas kami peroleh 5 menit jelang berakhirnya babak pertama. Salah satu bek lawan dengan sengaja menyentuh bola di kotak terlarang. Wasit pun menunjuk titik putih. Hati saya, dan juga rekan-rekan lainnya, terasa lega dengan peluang emas ini. Saya pun menghampiri kotak penalti lawan untuk mengeksekusi bola mati tersebut. Namun belum sampai di daerah lawan, Jali menghampiri saya. “Boy biar gue yang ambil. Gue yakin masuk. Nggak masuk gue push-up,’’ tegas bocah asal Cipadu ini dengan optimisme tinggi. Walau hati kecil saya mengatakan jangan, tapi pada akhirnya, saya memberikan kesempatan itu kepada Jali. Toh semua demi tim. Dan saya pun mendukung penuh keinginan rekan satu tim saya. “Ok. Ambil Cuy. Yakin yah,” ujar saya ke Jali.

Sesaat suasana Sportcentrum seakan sunyi. Seluruh pasang mata seperti tertuju pada langkah kaki Jali. Hati ini pun berbisik, “Ayo Cuy. Bisa, bisa, bisa!”. Jali pun mengambil ancang-ancang untuk mengeksekusi bola. Dia berlari dan mengayunkan kaki kanannya. Bola melaju deras ke sisi atas kanan gawang. Langkah kiper lawan pun terkecoh, tapi sayang bola membentur tiang gawang dan keluar. “Anjinggg,” teriak Jali dengan nada kesal. ”Tadinya gue mau tipu. Kenapa gue shooting keras,” sambungnya menjelaskan. Sedikitpun saya tidak kecewa dengan kegagalan ini. Saya justru menyemangati Jali. “Udah fokus lagi. Ayo main, main, main,” ucapku. Babak pertama pun berakhir dengan kedudukan 0-0.

Di masa istirahat, saya mengatakan kepada teman-teman bahwa kekuatan PPI Jerman bisa kita taklukan. Mereka tidak mampu berbuat banyak di babak pertama. “Ayo kapan lagi? Is now or never! Yakin, yakin, yakin pokoknya,” teriak saya kepada rekan-rekan. Babak kedua dimulai. Permainan kami masih stabil seperti babak pertama. Peluang untuk mencetak gol kembali didapat lewat kaki Edo dan Manuel. Sayang, kami masih kesulitan dengan penyelesaian akhir. Di babak ini, Ais yang menjadi penjaga gawang, tidak begitu banyak menemui kesulitan. Keadaan ini pun memaksa saya untuk berani over-lapping naik membantu penyerangan. Langkah ini membuahkan hasil. Daniel yang berdiri bebas di sisi kiri gawang lawan mendapat operan dari kaki Edo. Melihat posisi kosong di kotak penalti lawan saya berlari masuk ke dalam. Daniel yang melihat saya dalam posisi bebas melayangkan passing akurat ke arah saya. Tanpa ragu dan dengan keyakinan penuh, kaki kanan ini saya ayunkan dan bola pun saya tendang ke sisi kanan gawang lawan. Kiper terkoceh, dan bola pun merobek jala lawan. “Yes, akhirnya!!!,” hati ini bicara. Kegembiraan pun meledak. Seluruh personel PPI Austria menyambut gol tersebut dengan suka cita. Saya langsung menghampiri bangku cadangan tim dan memberikan kiss-bye. Di sana saya melihat wajah Nita yang tampak bahagia dengan gol ini. “Gol ini buat kalian (Nona dan Nita),” ucapku sambil menunjuk ke arah mereka.

Sebagai penggandrung sepak bola, baru kali ini saya merasakan sesuatu yang extraordinary. Sering saya mencetak gol di berbagai ajang kompetisi, baik itu ketika membela tim sekolah, kampus, institusi, dan perusahaan, tapi perasaannya sangat berbeda. Gol itu pun langsung mendongkrak semangat juang rekan satu tim, termasuk saya sendiri. Rasa lelah, letih, dan sakit pun  sirna ditelan gegap gempita satu gol tersebut. Bahkan, saat bagian kaki kiri saya terkilir setelah menghalau pergerakan lawan, saya langsung kembali bangkit. Padahal, saat itu, saya hampir menangis tak kuat menahan rasa sakitnya. Jali pun sampai panik saat melihat muka saya menahan rasa sakit tersebut. “Mau diapain nih Boy. Tolong, tolong tim medis mana?,” teriak Jali ke arah panitia pertandingan. Tadinya saya mau berhenti total dan tidak ingin main lagi. Namun setelah melihat Edo mengalami cedera di bagian paha, dan Jali yang ketarik urat kakinya, saya pun memaksakan diri untuk kembali masuk ke lapangan. Dengan kondisi yang sebenarnya tidak layak main, saya memforsir segala kemampuan saya untuk bisa mempertahankan keunggulan ini. Tak lama setelah leading satu gol, kami berhasil memperbesar keunggulan lewat kaki Manuel (2 gol) dan Edo (1 gol).

Kemenangan ini disambut suka cita oleh kami. Peluang untuk lolos kembali terbuka. Pasca pertandingan, suara-suara pujian mulai berdatangan. Ugi, dari PPI Jerman, memberikan rasa hormatnya kepada saya. “Luar biasa deh Austria. Main basket dan futsal bergantian,” ucapnya. Tak hanya Ugi, sejumlah panitia Temu Eropa 2011 pun melayangkan pujian senada. “Mantap Austria,” ujar seorang panitia yang bertugas di meja lapangan basket. Di luar arena, saat saya tengah menghisap sebatang rokok, pujian datang dari salah satu diplomat KBRI Belanda, Alvin (atau Alfian kalau ga salah namanya). Pria yang mengaku satu angkatan dengan Pak Iqbal (KBRI Wina) ini angkat topi atas perjuangan anak-anak Wina. “Kalian kuat yah bermain di dua cabang sekaligus. Nggak capek apa?” ujar pria berkaca mata yang menjadi andalan tim Futsal KBRI Belanda ini. Ingin saya bertutur balik atas pertanyaan sang Diplomat, tapi buat apa? Toh kemenangan yang kami raih itu sudah bisa menjawab segala penilaian negatif yang terbesit di benak orang-orang. Kami memang kecil dari jumlah personel, tapi kami besar dari sisi semangat dan kekompakan. (bersambung)

 

*) “I never consider myself as the best player. I’m not obsessed with individual titles. I’m much more interested in being part of a team which has a spirit for winning” --- Kutipan dari Christiano Ronaldo(Real Madrid) ini saya dedikasikan bagi rekan-rekan satu tim saya yang gila, kompak, kocak, dan penuh semangat! Kalian rekan satu tim yang memiliki spirit untuk menang.

Comments