PPI Austria 2026 pada Stammtisch PPI Austria 2026 dengan Prof. Assoc. Davin H. E. Setiamarga, Ph.D.
Wina, 5 Juni 2026 — PPI Austria kembali menghadirkan forum diskusi ilmiah melalui kegiatan Stammtisch PPI Austria yang kali ini menghadirkan Prof. Assoc. Davin H. E. Setiamarga, Ph.D., seorang peneliti dan akademisi Indonesia yang saat ini berkiprah sebagai associate professor di National Institute of Technology (KOSEN) Wakayama College, Jepang, sekaligus Professional Research Fellow di University of Vienna. Kegiatan ini diselenggarakan di KBRI di Wina, Austria. PPI Austria menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KBRI di Wina atas dukungan serta fasilitasi yang diberikan sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik.
Mengangkat tema “Pathways Toward Resilient and Sustainable Ecosystems Through Scientific Data-Driven Action for Nature Positive Futures”, acara ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi kritis mengenai bagaimana sains dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan global yang semakin kompleks.
Dalam paparannya, Prof. Davin menyoroti fenomena yang saat ini dikenal sebagai triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Ketiga krisis tersebut tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.
Peningkatan suhu global, degradasi ekosistem pesisir, berkurangnya populasi spesies, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan merupakan contoh nyata bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial dan ekonomi.
“Ketika ekosistem rusak, biaya yang harus dikeluarkan manusia untuk melindungi dirinya akan semakin besar,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan dalam diskusi tersebut.
Salah satu poin yang paling ditekankan adalah pentingnya pengambilan keputusan berbasis data ilmiah (data-driven decision making).
Menurut Prof. Davin, berbagai kebijakan konservasi maupun pembangunan sering kali didorong oleh niat baik, tetapi tidak selalu didukung oleh data yang memadai. Akibatnya, banyak program yang tidak mencapai tujuan yang diharapkan atau bahkan menimbulkan konsekuensi ekologis yang tidak terduga.
Melalui berbagai contoh penelitian yang ia lakukan di Jepang dan negara-negara Asia lainnya, Prof. Davin menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis genetika, genomika, dan analisis biodiversitas dapat membantu memahami perubahan ekosistem secara lebih akurat. Data yang diperoleh kemudian dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Ketika berbicara mengenai konservasi, perhatian publik sering kali terfokus pada spesies-spesies karismatik seperti harimau, panda, atau orangutan. Namun, Prof. Davin mengingatkan bahwa biodiversitas jauh lebih luas daripada itu.
Serangga, moluska, organisme laut, hingga mikroorganisme memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya, kelompok-kelompok organisme tersebut sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam penelitian maupun pendanaan.
Padahal, pemahaman terhadap keseluruhan jaringan kehidupan inilah yang memungkinkan kita memahami bagaimana suatu ekosistem bekerja dan bagaimana perubahan lingkungan dapat memengaruhi keberlanjutannya.
Diskusi juga menyoroti tantangan yang dihadapi dunia akademik saat ini, terutama terkait kecenderungan pendanaan yang lebih berorientasi pada riset terapan dan hasil jangka pendek.
Prof. Davin mengingatkan bahwa banyak inovasi besar yang saat ini digunakan masyarakat berawal dari riset dasar (fundamental research) yang pada awalnya tampak tidak memiliki manfaat langsung.
Penelitian mengenai genetika, evolusi, biodiversitas, dan ekologi sering kali membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan aplikasi praktis. Namun tanpa fondasi pengetahuan tersebut, pengembangan teknologi dan inovasi di masa depan akan kehilangan pijakan ilmiahnya.
Dalam analogi yang menarik, riset dasar diibaratkan sebagai hulu dari sebuah sungai. Jika hulunya kering, maka tidak akan ada yang dapat dialirkan ke hilir.
Sebagai salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia, Indonesia memiliki peluang sekaligus tanggung jawab besar dalam menjaga kekayaan alamnya.
Diskusi mengenai pembangunan, ketahanan pangan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya alam menunjukkan bahwa berbagai keputusan strategis di masa depan memerlukan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun masa depan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis.
Stammtisch kali ini menjadi pengingat bahwa sains tidak seharusnya berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah. Pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi informasi yang dapat dipahami publik dan digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Melalui diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif, para peserta memperoleh perspektif baru mengenai hubungan erat antara penelitian ilmiah, kebijakan publik, dan masa depan lingkungan hidup.
PPI Austria berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi wadah pertukaran gagasan lintas disiplin serta memperkuat kontribusi diaspora Indonesia dalam menjawab tantangan global melalui ilmu pengetahuan.